CATURSILA 1

Training of Leadership 2014 2

Oleh: Rizki Pratama 3

Sabtu, 1 November 2014

Gedung Geget Winda, Lt.2 UPI Bhumi Siliwangi Bandung

 

PENDAHULUAN

Sebagaimana ungkapan “sejarah harus terus dicatat”, pada bagian ini penulis akan mencoba membahas tentang sekelumit berkenaan dengan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Diharapkan kader mampu menginternalisasi dan mengaplikasikan identitas ke-HIMA PIPS-an. Sebagaimana awal pembahasan tentang landasan filosofis, landasan konstitusional, tujuan, etika, dan prinsip HIMA PIPS.

Mengingat banyaknya organisasi mahasiswa serta lembaga lain yang ada. Sebagaimana prinsip independensi yang digaungkan selama ini, haruslah menjadi prinsip dasar dalam hubungan antara HIMA PIPS dengan birokrat kampus, organisasi intra maupun ekstra kampus. Dan pada akhirnya bermuara pada kemampuan kader untuk mengidentifikasi dan menghadapi tantangan-tantangan yang berasal dari dalam maupun luar organisasi mahasiswa yang kita cintai ini.

 

TENTANG TUNTUTAN

Dalam percakapan pertama ini, saya akan mencoba memulai dengan mengajukan satu persoalan mengenai teori kumpulan kera. Bahwa keinginan seorang manusia untuk berkumpul adalah sebuah keniscayaan. Seperti ungkapan “kera berkelompok”. Dan dalam kelompok tersebut didominasi oleh kera tua. Populasi yang terbanyak adalah betina dan anak. Dalam koloni ini diceritakan adanya rasa aman karena saling melindungi anggota kelompok dan wilayah. Selanjutnya ada rasa cinta dan kasih sayang sehingga ada yang dinamakan kegiatan berkembang biak. Kecemasan dan keresahan pada akhirnya hinggap dalam diri kera-kera muda. Semangat muda dan gairah menuntut eksistensi diri pada akhirnya. Dominasi yang ada adalah musuh bagi keinginan kera muda ini. Pembelotan yang diakhiri dengan rekayasa pembunuhan bapaknya sendiri menjadi akhir yang delematis. Ini masalah keinginan untuk berkuasa dan tuntutan untuk mengawini ibunya sendiri. Walaupun pada akhirnya ada rasa bersalah dalam kawanan muda. Pergolakan dan dinamika tersebut terus terjadi. Dominasi, rasa aman, kasih sayang, kecemburuan dan perilaku kanibalistik.

Seperti yang ada di awal perbincangan. Kalimat yang lebih pantas mungkin adalah “ada karena dibutuhkan”. Seperti arti “a” dalam konsep agama yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau. Agama hadir untuk menertibkan, karena ketertiban adalah keinginan sebagian besar dari kita. Hal ini juga berlaku kepada benda yang ada di saku celana kita saat ini atau selembar kertas yang sedang kamu baca.

 

HARGA YANG HARUS DIBAYAR

Ini bukan masalah kertas bernomor, ini lebih dari itu semua. Memilih berarti siap atas segala kutukan. Mungkin itu terlalu mengerikan di telinga kita. Namun memang benar dalam pilihan akan selalu ada konsekuensi yang harus kita terima. Tentu kita tidak ingin digunjing sebagai seorang pecundang yang dalam sikapnya telah memilih namun lari dari pilihannya sendiri yang akan menimbulkan kecemasan-kecemasan lain.

Sebagaimana kera-kera yang telah diceritakan. Walaupun ada rasa aman, kasih sayang, namun diantara mereka harus selalu ada perasaan atau ego yang ditekan demi kelompoknya. Contoh kasus kera dapat menjadikan mata kita terjelalat, bahwa ketika ego pribadi tidak terkontrol dalam sebuah kelompok, maka pada akhirnya akan timbul gejolak yang berpengaruh terhadap kestabilan kelompok/organisasi. Lagi-lagi bukan hanya ini. Lebih luas dalam organisasi, kita dituntut untuk lebih mengabdikan diri demi kebersamaan. Kebersamaan bukan berarti harus selalu bersama. Kebersamaanpun bukan berarti harus selalu berpemikiran sama. Ini akan menjadi awal untuk kita berpikir mengenai harga yang harus dibayar dan kedudukan toleransi serta segala aturan di dalamnya.

Tak lagi harus bercerita tentang kera ekor panjang di sini. Kita tentu sadar atas apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling. Tak berlebihan memang jika kita jengkel hanya karena pemimpin kita selalu menceritakan keluarganya dan menelantarkan rakyatnya. Atau seorang mahasiswa memilih masuk Himpunan Mahasiswa namun tak banyak berperan dan hanya memperbanyak riwayat organisasi di CV nya. Atau Himpunan Mahasiswa hanya dijadikan “sarang pembalut”, untuk ikut serta rapat evaluasi saja tidak bisa, hanya karena mengantarkan pacarnya pulang ke kosan. Atau sekedar memilih bermain PS dibandingkan rapat kegiatan yang sudah tinggal hitungan hari.

Penjelasan di atas adalah sebuah cermin yang dapat mengantarkan kita pada kedudukan prioritas. Di dunia ini tentu kita tidak hanya memilih satu pilihan bukan?. Sampai saat ini mungkin berjuta pilihan telah diambil bahkan tak terhitung. Atas dasar itu lah komulatif konsekuensi berbenturan di sini. Tentu tak lagi perlu penjelasan lebih lanjut tentang kesamaan rasa ini.

Sesungguhnya bagian ini terkait nantinya dengan apa yang dinamakan landasan organisasi kita. Ada titik di mana pandangan organisasi tersebut disakralkan habis-habisan. Atau malah sebaliknya, dianggap “tak ada”. Mungkin akan timbul rasa adanya kehadiran konsep prioritas dalam menterjemahkan landasan organisasi kita.

Namun tentu dalam bagian ini saya tak mau hanya mengambangkan pemikiran. Dari awal proses perkenalan kita dengan organisasi mahasiswa, kita diarahkan kepada rasa yang lebih dalam. Mungkin sebagaian orang menjalani status sebagai organisatoris memiliki ekspektasi yang jauh lebih besar dari hanya sekedar kesibukan rapat dan berkegiatan. Kader-kader muda himpunan seperti itu tidak banyak memiliki masalah dalam organisasi. Sedikitpun, tidak ada maksud untuk mendikotomikan mahasiswa. Namun ada benarnya ketika beberapa mahasiswa yang mengaku cinta pada organisasinya namun hanya separuh hati atas dasar alasan-alasan yang tidak mencerminkan kedewasaan.

“Cinta itu tak harus memiliki”, apakah cocok dengan kasus ini. Mungkin ada benarnya. Kejadian seperti ini akan selalu ada. Seperti seorang mahasiswa yang mengungkapkan kebimbangannya. Kebimbangan antara pilihan tetap menjadi pengurus atau keluar dari kepengurusan. Alasan bagi saya adalah pertimbangan pribadi. Seperti ungkapan di awal paragraf tadi. Jika mengikuti himpunan adalah cinta maka apa namanya yang tidak mengikuti himpunan. Ini sudah perspektif yang meleset sangat jauh.

Cinta adalah cinta, tak memandang tempat, status, apalagi kedudukan. Jika keluarnya dirimu dari himpunan akan menambah kinerja dan prodiktifitas himpunan, maka itu cinta. Pandangan ini akan mengundang mahasiswa yang tidak setuju untuk mengutuk. Mungkin salah satu alasannya adalah membatasi orang belajar. Namun tentu, belajar mengambil keputusan lebih berharga dibandingkan mengabdi dengan terpaksa.

 

FORMULA HIMA PIPS

Penulis sedikit kesulitan menentukan konsep yang harus dipakai dalam bagian ini. Apakah ini sebuah manifesto HIMA PIPS? Atau sebuah ideologi? Namun mungkin perjanjian luhur mengwujud sebagai jiwa dan kepribadian mahasiswa HIMA PIPS lebih cocok digunakan.

Sebagai sebuah organisasi mahasiswa, harus adanya perbedaan dengan organisasi lain. Antar organisasi mahasiswapun demikian. Seperti konsep kemerdekaan yang selalu konsen didengungkan di kalangan mahasiswa. Independensi bukan hal spele. Hal tersebut karena konsep kemerdekaan berdiri sendiri bukan atas pengertian dari rangkaian konsep lain. Karena pendefinisian akan mengubah makna kemerdekaan atau independensi itu sendiri. Hal ini adalah hubungan antara konsep yang akan didefinisikan dengan definisi secara etimologis. Banyk jenis kemerdekaan. Yang menjadi fokus saat ini adalah kemerdekaan berfikir. Bagi saya, kemerdekaan berfikir adalah hal yang mendasar, yang harus dimiliki mahasiswa. Mungkin kita sepakat bukan jika dikatakan selemah-lemahnya manusia adalah manusia yang takut berfikir orisinil.

Sikap berdasarkan pemikiran sendiri, bebas dari intervensi pihak manapun, inilah independen. Sebetulnya kalimat diatas telah membunuh dirinya sendiri. Ini merupakan refleksi dari tulisan saya sebelumnya tentang Independensi Mahasiswa. Jika kita hayati kalimat yang menjadi fokus kita di atas maka kita akan menjumpai makna dari kemerdekaan itu bebas dan tanpa intervensi manapun. Padahal manusia dalam pemikirannya selalu dalam keadaan banyak terintervensi. Dalam pergaulannya manusia selalu dihadapkan pada kepentingannya berinteraksi dengan manusia lain. Lebih lanjut, opini-opini yang dia dengar membentuk struktur pemikiran untuk melakukan proses generalisasi. Atau buku-buku yang dibaca adalah persekian persen faktor pembentuk sudut pandang manusia berfikir. Hal itu semua berhubungan erat dengan pertanyaan adakah pemikiran objektif, karena semuanya menjadi subjektif. Atau kalimat konyol yang timbul seperti orang yang merdeka dalam berfikir hanyalah orang yang seumur hidupnya tinggal di gua lalu berpendapat, maka pendapatnya adalah tanpa intervensi. Tentu hal tersebut tidak mungkin.

Lebih luas independensi dipandang sebagai sikap yang utuh-menyeluruh dari diri seseorang yang berasal dari pemikiran, pandangan serta dengan pertimbangan hati nuraninya yang paling dalam tanpa diintervensi oleh pihak lain. Konsep diintervensi ditekankan dalam tahapan puncak pengambilan kesimpulan atau sikap. Independensi seringkali dijadikan senjata bagi beberapa orang untuk memfonis ketidak independensian orang lain. Independensi adalah mengolah kemampuan yang didapat dan dimiliki untuk menentukan cara berfikir, menyimpulkan pemikiran dan menentukan sikap, atas dasar kedewasaan.

Setelah kita membicarakan hakikat kemerdekaan, selanjutnya bagaimana kemerdekaan dalam sikap atau pemikiran diterjemahkan pada kehidupan berorganisasi. Independensi itu tidak memihak atau menentang. Ketika seseorang mahasiswa menentukan sikap setelah melakukan pengamatan, penilaian, dan menyimpulkan atas suatu masalah. Di sisi lain beberapa kelompok berpendapat sama. Tentu kita sepakat bahwa hal tersebut tidak membuktikan bahwa mahasiswa tersebut tidak independen. Setelah mahasiswa berfikir radikal dalam menentukan sikap, sama atau tidak dengan mahasiswa ataupun kelompok diluar himpunannya, tidak serta merta dapat dinilai bahwa mahasiswa tersebut tidak merdeka dalam menentukan sikap. Tentu kita tidak menginginkan komposisi mahasiswa yang tanpa toleransi dan berhati keras serta sering merendahkan mahasiswa lain dengan menyebut mahasiswa di luar dirinya tidak independen lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang tidak independen itu sendiri. Mungkin kebanyakan mahasiswa harus mulai berfikir tentang kelayakan dirinya menilai.

Kecerdasan seseorang diuji dalam menilai hal yang ada di depannya. Cerdas adalah salah satu tendensi dalam percakapan ini. Dahulu ketika bekerja dengan keras dipercaya dapat meningkatkan sektor industri di Amerika, orang-orang berlomba dengan keras untuk itu. Pada jaman yang semakin bergeser tentu kepastian-kepastian hasil klaim tidak akan memiliki eksistensi terus menerus. Era yang berubah menuntut orang berubah atas pandangan-pandangannya. Masa-masa modern membawa pemikiran bahwa bekerja dengan cerdas akan memberikan hasil yang lebih baik. Sebagaimana ulasan masa lalu tersebut, dalam hal ini tak ada maksud untuk merendahkan konsepsi bekerja dengan keras. Tiada pula kecerdasan hanya akan berefek baik bagi masa-masa penuh dengan teknologi. Dengan kecerdasannya mahasiswa dapat melihat berbagai kemungkinan. Dengan kecerdasan dan berpikir taktis mahasiswa mampu menangkap dan memanfaatkan kemungkinan. Cerdas berarti kemampuan seseorang untuk memahami cara futuristik sesuai dengan kapasitasnya dalam mendayagunakan otak dan kemampuan berpikir lebih kreatif dalam menemukan sesuatu.

Seperti pentingnya kecerdasan dalam pergerakan mahasiswa, ikhlas dipandang menduduki wilayah penting lainnya. Seperti kemerdekaan yang bermakna tanpa batas, ikhlas pun demikian. Cocok barangkali jika dikatakan ikhlas tak ada batasnya. Karena sekali ikhlas ada batasnya, itu bukan ikhlas. Seperti halnya para mahasiswa yang beribadah. Keikhlasan adalah sebuah semangat melakukan kewajiban tanpa ada tuntutan setelahnya. Kurang tepat juga jika pernyataan di atas dinegasikan menjadi ikhlas adalah mengharapkan tidak memiliki harapan. Walaupun tidak yang menjadi titik berat dalam pemaknaan sebelunya adalah tanpa harapan, namun adanya harapan menjadikan konsep ikhlas tidak lagi bernilai. Jika dipandang dari sebuah penilaian seseorang, akan sangat sulit sekali. Namun perinsip-perinsip yang kita bicarakan adalah sebuah kewenangan masing-masing pribadi menginternalisasikannya.

Sebuah keajegan dalam bertindak, cerdas dalam menentukan terobosan dan ikhlas dalam bekerja haruslah dituntaskan dengan pengabdian yang total. Totalitas dalam pengabdian adalah sebuah pilihan bagi masing-masing dari kita. Secara etimologi, totalitas berarti keseluruhan atau kesemuanya. Sikap yang mencolok dari hahikat konsep ini adalah tuntas dalam bekerja atau mengabdi. Kalimat pertama dalam paragraf ini bukan isyarat ketidak sejajaran antar konsep yang kita perbincangkan. Kesemuanya ini adalah sebuah kepaduan yang menghasilkan watak, karakter, kepribadian dan tingkah laku mahasiswa yang ideal menurut perspektif Organisasi Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.

Cerdas, total, ikhlas namun tak independen hanyalah menjadikan mahasiswa yang mengumpulkan recehan dengan menggadaikan kehormatannya. Independen, cerdas, total tapi tak ikhlas hanya mencetak mahasiswa yang selalu menginginkan balasan atas pengabdiannya. Ikhlas, independen, total namun tak cerdas hanyalah menghasilkan mahasiswa yang mudah ditipu dan dibohongi. Independen, cerdas, ikhlas tanpa total hanyalah menggambarkan mahasiswa yang separuh hati dalam mengabdi.

Tentu dari pembahasan-pembahasan tersebut, banyak sekali keterkaitan dengan konsep-konsep yang dapat menunjang dan dapat menjadi penghayatan kita. Kedudukan toleransi ataupun pentingnya usaha dalam penerapan akan membatu kita mewujudkan pribadi berdasarkan Catursila. Konsepsi ini adalah sebuah jawaban atas kegelisahan masa lalu yang mesti cepat ditangani. Bukan hanya sekedar kata, seperti bukan hanya kegiatan terlaksana, namun yang paling penting adalah bagaimana konsepsi ini menjadi ciri bagi organisasi mahasiswa yang berumur muda ini.

 

 

1 Catursila merupakan salah satu landasar organisasi Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. (Lihat Anggaran Dasar)

2 Training of Leadership adalah salah satu tahapan kaderisasi sebagai syarat menjadi anggota biasa. (Lihat Undang-undang Standar Kaderisasi)

3 Rizki Pratama merupakan anggota luar biasa Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. (Lihat Anggaran Rumah Tangga)

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Mahasiswa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s