SUMPAH BUKAN SAMPAH

Oleh: Rizki Pratama

“Yang muda, yang berkarya” mungkin sebuah ungkapan yang sering kita dengar. Tak berlebihan kiranya jika pemuda digambaran sebagai jasad yang memilki gairah semangat. Ombak yang datang selalu akan kembali dan digantikan ombak yang baru. Para tua pun tak akan selamanya hidup dan tak akan selamanya mengurusi ini itu.  Saatnya yang muda beraksi, dan membuktikan semangat baru, menggantikan kekusangan yang ada.

Sejarah membuktikan. Pemuda tak bisa dipisahkan dari perjalanan bangsa ini. Jika kita mencoba kembali membuka tabir lama, tentu kita akan teringat betapa pemuda berperan besar dalam semangat ke-Indonesia-an. Bagaimana tidak, di tanggal yang bersejarah itu, 28 Oktober 1928 telah terucap sebuah janji yang mengikat okupan Indonesia. Sumpah pemuda adalah sebuah cikal bakal Proklamasi 1945 yang melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda adalah awal dari munasadat persatuan, yakni sebuah keyakinan tentang konsep Bhineka Tunggal Ika.

Tentu kita tahu, perjuangan semangat kebangsaan diawali dari pergerakan daerah-daerah yang pada akhirnya terpolarisasi dan menjelma menjadi sebuah sumpah sakral. Sumpah yang pada akhirnya menyatakan satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia. Sebuah pencapaian ini adalah kesamaan semangat prinsipil dari Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Pemuda Betawi dan lain-lain. Tentu bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda ini tak berlebihan kiranya jika kita maknai sebagai kelahiran Bangsa Indonesia. Kelahiran yang timbul dari semangat keluar dari penjajahan, demi mengangkat harkat dan martabat Bangsa Indonesia.

Perkumpulan mahasiswa yang pada akhirnya menyelenggarakan Kongres Pemuda II ini, telah membuktikan begitu pentingnya mahasiswa atau pelajar sebagai generasi muda. Generai yang tercerahkan, generasi yang memiliki tanggung jawab sebagai seorang intelektual terhadap bangsanya.

Berbeda dengan saat ini, semangat persatuan, sebagaimana sumpah yang telah diucapkan dulu. Sangat sering kiranya terdengar di telinga kita tentang begitu banyaknya pertikayan antar golongan. Konflik yang terjadi, seperti dilatar belakangi oleh perbedaan suku, agama ataupun yang berlatar belakang politis sangatlah banyak terjad. Bangsa ini seperti bom sumbu yang selalu siap disundut. Seperti halnya invisible hand from invisible man bangsa kita mudah terprofokasi, dikompori. Jika itu yang terjadi, maka ini hanya masalah waktu. Tentu ini hal yang tidak kita harapkan. Hubungan asmara saja bisa putus, pernikahan pun bisa diakhiri oleh perceraian, begitupun bangsa ini. Namun tentu kita selalu melihat apa yang kita tak punya. Selalu melihat perbedaan di tengah jalan. Mungkin sedikit di antara kita yang mengingat sulitnya perjuangan untuk menyatukan semangat. Semangat yang berbuah sumpah, semangat untuk  keluar dari lubang kutukan penjajahan. Momentum Sumpah Pemuda haruslah menjadi kenangan yang dapat membangkitkan kembali rasa kebersamaan, rasa satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa.

Sebagai suatu elemen yang penting dalam membawa perubahan, mahasiswa bukan menunggu munculnya perubahan, itu yang harus kita sepakati bersama. Kurang lebih 2% dari jumlah rakyat Indonesia yang di dalam KTP nya berprofesi sebagai Mahasiswa. Dalam kegiatannya di kampus, tentu bukan hanya mengikuti perkuliahaan. Mahasiswa sebagai pembelajar, peneliti dan pengabdi akan selalu berusaha dalam setiap tindakannya, agar tercapai Tri Darma Perguruan Tunggi. Mahasiswa hadir bukan sebagai insan yang gampang dihasut. Bukan juga diciptakan sebagai penghasut, pemicu konflik. Tapi mahasiswa hadir sebagai subjek intelektual yang membereskan masalah itu.

Ada sebuah kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa. Mahasiswa yang dapat diandalkan. Mahasiswa memiliki kepala yang dapat digunakan untuk berfikir. Dalam tataran ini mahasiswa dituntut cerdas. Kecerdasar mahasiswa diperoleh dari bagaimana dia mengikuti perkuliahaan, buku-buku yang ia baca, diskusi-diskusi yang dia ikuti, kajian-kajian yang dia datangi serta hal lain dalam rangka menajamkan pisau analisisnya. Mahasiswa pun memiliki tangan yang bisa diandalkan. Tangan yang mewakili penderitaan rakyat. Tangan yang terampil dalam setiap gerak motoriknya. Tangan yang dapat membuat karya-karya nyata. Mahasiswa pun memiliki hati, hati yang berbicara bahwa ada sebuah tanggung jawab moral sebagai mahasiswa. Dengan kecerdasan saja mahasiswa hanya akan menjadi korup. Dengan tangan saja, mahasiswa hanya akan menjadi babu tanpa ilmu. Dan jika hanya dengan hati saja, mahasiswa hanya bisa menjadi makhluk lemah tanpa karya. Jadilah mahasiswa yang cerdas, terampil dan memiliki kesadaran penuh tentang perannya dalam mengisi kebersamaan di rumah besar yang bernama Indonesia.

Pada akhirnya, semoga Tuhan memberkahi Bangsa Indonesia dari pertama kelahiran, sekarang dan sampai akhir zaman.

Pos ini dipublikasikan di Mahasiswa. Tandai permalink.

2 Balasan ke SUMPAH BUKAN SAMPAH

  1. Ilham berkata:

    MAntap…. Yang MUDA yang BEKARYA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s