ANALISIS DESKRIPTIF UPACARA SEREN TAUN DI KELURAHAN CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN

Oleh : Rizki Pratama

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

 

Perkembangan jaman yang begitu pesat menghadapkan kita pada suatu krisis. Krisis setiap orang melupakan kebudayaan. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mengenal kebudayaannya sendiri, khususnya kebudayaan lokal yang ada dis ekitarnya, guna menciptakan

Tari Buyung

"Tari Buyung" Merupakan tarian yang berasal dari Kab. Kuningan

rasa kecintaan terhadap budaya bangsa, agar terciptanya suatu bangsa yang kuat yang menghargai kebudayaannya sendiri tanpa terpengaruhi oleh kemajuan jaman.

Budaya dapat diartikan sebagai sebagai gabungan kata “budi” dan “daya”, budi pekerti yang dimilki oleh manusia dan daya dan upaya manusia dalam membina hidup. Jadi budaya dapat diartikan sebagai suatu Usaha manusia untuk menciptakan sesuatu yang dberguna bagi kehidupannya dengan menggunakan akal pikirannya.

Kebudayaan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Tanpa disadari setiap waktu kita hidup dengan budaya, dengan hasil cipta karya, karsa, dan rasa manusia, dengan barang-barang hasil ciptaan manusia yang tujuannya guna mempermudah hidup manusia itu.

Kuningan merupakan Kabupaten kaya budaya dan di klaim sebagai sumber peradaban pertama di tanah Jawa Barat karena ditemukannya adanya situs budaya prasejarah dari jaman Megalitikum yang terletak di Cipari, walaupun kurang memberikan bukti yang kuat.

Kelurahan Cigugur merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunikan tersendiri di kabupaten Kuningan. Diferensiasai sosial dan masyarakat multikultural sangat lekat dengan  budaya tradisionalnya menjadikan Kelurahan Cigugur sebagai sentra budaya dan menjadi ikon Kabupaten Kuningan. Terletak di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai, menjadikan Kelurahan Cigugur yang subur, sejuk, dan menjadi sumber mata air bersih melimpah dan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat lokal. Karena karunia Allah SWT yang melimpah itu, masyarakat Cigugur melakukan suatu tradisi yang disebut Seren taun. Acara Seren Taun yang diselenggarakan setiap tanggal 18 Raya Agung sampai 22 Raya Agung ini merupakan bentuk ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sebagai tontonan unik dan tersendiri bagi warga lokal maupun wisatawan.

Maka atas dasar uraian di atas dapatlah diambil suatu hal yang sanagat penting, pengembangan wilayah ini sebagai sarana pariwisata dinilai perlu diperhatikan secara langsung oleh pemerintah. Peran pemerintah dinilai penting dan dibutuhkan dalam meningkatkan Pariwisata di Kabupaten Kuningan khususnya Cigugur.

“ Kenalilah dirimu sendiri sebelum kau mengenalkan diri pada orang lain”, mungkin ungkapan tadi harus kita tanamkan terlebih dahulu pada masyarakat Kuningan dalam mengenal kebudayaan di Cigugur.

Atas dasar itulah saya sebagai penulis ingin mengetahui dan mempelajari lebih jauh tentang Kebudayaan Kuningan di Cigugur. Maka dalam makalah ini penulis  memilih judul : “Analisis Deskriptif Upacara Seren Taun di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan”, yang nantinya agar berguna bagi khalayak, khususnya warga Kuningan sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

Didasarkan atas pemikiran tersebut diatas, maka timbul masalah yang muncul dan perlu ditinjau adalah :

  1. Bagaimana sejarah Cigugur ?
  2. Bagaimana keadaan geografis Cigugur ?
  3. Bagaimana Seren Tauh di Cigugur ?

 

 

1.3 Tujuan Makalah

  1. Untuk mengetahui sejarah Cigugur.
  2. Untuk mengetahui keadaan geografis Kelurahan Cigugur.
  3. Untuk mengetahui tentang Upacara Seren Taun di Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

1.4 Manfaat Makalah.

Manfaat dari hasil penelitian ini dapat timbul suatu pemikiran baru yang dapat dijadikan dasar pemikiran guna membantu meningkatkan kesadaran kita akan kayanya kebudayaan di Kabupaten Kuningan. Dan untuk mempelajari dan mengetahui lebih dekat budaya di Kelurahan Cigugur, beserta tradisinya dan sebagai penerapan teoritis dan praktek dalam tata cara menyusun makalah, dan makalah ini dapat dijadikan sumbangan informasi bagi masyarakat dan maha siswa lainnya untuk lebih mengenal Cigugur.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Budaya.

Kini banyak orang suka berdiskusi tentang masalah kebudayaan dan pembangunan, masalah hubungan kebudayaan tradisional dan kebudayaan modern, masalah perobahan nilai-nilai budaya. Dalam diskusi-diskusi di berbagai studi-klab, pada konversi pada pertemuan-pertemuan dengan para cendikiawan, dalam kursus-kursus penataran para karyawan atau dosen, atau pertemuan-pertemuan tanya-jawab dengan para wartawan kita semua sering dihadapkan dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang berkisar sekitar pokok-pokok tadi

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah misalnya: “Apa sebenarnya yang tercakup dalam konsep kebudayaan itu ?”. Banyak orang mengartikan konsep itu dalam arti yang terbatas, ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Dengan singkat: kebudayaan adalah kesenian. Dalam arti seperti itu, konsep tersebut memang terlamapau sempit.

Sebaliknya, banyak orang terutama para ahli ilmu sosial, mengartikan konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetusnkan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Konsep itu adalah amat luas karena meliputi hamper seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Hal-hal yang tidak termasuk kebudayaan hanyalah beberapa reflex yang berdasarkan naluri, sedangkan suatu perbuatan yang sebenarnya juga merupakan perbuatan naluri seperti makan misalnya, oleh manusia dilakukan dengan peralatan, dengan tata-cara sopan santun dan protocol, sehingga hanya bisa dilakukannya dengan baik sesudah suatu proses belajar tata-cara makan.

Karena demikian luasnya, maka guna keperluan analisa konsep kebudayaan itu perlu dipecah lagi ke dalam undur-unsurnya. Unsur-unsur terbesar yang terjadi karena pecahnya tahap pertama disebut “unsure-unsur kebudayaan yang universal” dan merupakan unsure-unsur yang pasti bisa ditemukan disemua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil terpencil maupun dalam masyarakat perkotaan yang besar dan complex.

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar  (Koentjaraningrat, 1984 : 9 ; dan 1986 : 180).

Prof. Dr. Prijono, guru-besar di Universitas Indonesia dan Mentri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan  pada zaman pemerintahan Soekarno, menurut Beliau “Secara formil kata kebudayaan   berasal dari kata budaya jamak dari budhi yang telah lazim kita pakai dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah kita dalam bentuk budi. Jika demikian, maka kebudayaan dapat diartikan sebagai: segala hasil manusia atau hasil dari segala budhi manusia.”

Iih Abdurochim, Ph. D., Lektor di IKIP Bandung, menyimpulkan: “Kebudayaan itu adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia, baik dahulu maupun sekarang, yang kongkrit maupun yang abstrak. Jadi kebudayaan adalah lawan daripada alam (kultur lawanya natur)”. Selanjutnya beliau berkata pula: “Kebudayaan terdiri dari berbagai segi atau aspek dan unsur atau elemen.”

7 Unsur Kebudayaan Sunda Sebagai Cultural Universal

Kebudayaan terdiri dari beberapa unsure, yaitu:

  1. Sistem religi dan upacara keagamaan,
  2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan,
  3. Sistem pengetahuan,
  4. Bahasa,
  5. Kesenian,
  6. Sistem mata pencaharian hidup,
  7. Sistem teknologi dan peralatan

Ketujuh unsur tersebut masing-masing dapat dipecah lagi ke dalam sub-unsur-unsurnya. Demikian ketujuh unsure kebudayaan tadi memang mencakup seluruh kebudayaan manusia dimanapun juga di dunia, dan menunjukan ruang lingkup dari kebudayaan serta isi dari konsepnya.

Susunan tata-urut dari unsure-unsur kebudayaan universal seperti tercantum di atas dibuat dengan sengaja untuk sekalian menggambarkan unsure-unsur mana yang paling sukar berubah atau terpengaruh kebudayaan lain, dan mana yang paling mudah berubah atau diganti dengan unsur-unsur serupa dari kebudayaan-kebudayaan lain. Dalam tata-urut tersebut akan segera terlihat bahwa unsure-unsur yang berada di bagian atas dari deretan, merupakan unsure-unsur yang lebih sukar berubah dibandingkan dengan unsure-unsur yang selanjutnya. Sistem religi dan sebagian besar dari sub-unsur-unsurnya biasanya memang mengalami perubahan yang lebih  lambat bila dibandingkan dengan teknologi atau dengan peralatan bercocok tanam tertentu. Namun harus diperhatikan bahwa ini hanya dalam garis besarnya saja, karena ada kalanya sub-sub-unsur dari suatu unsure lebih sukar dirubah daripada sub-sub-unsur dari suatu unsure yang tercantum diatasnya.

Sudah tentu dalam prakteknya kita sering tidak mungkin mempergunakan konsep kebudayaan dengan ruang lingkup seluas-luasnya, dan yang dipergunakan kebanyakan ahli ilmu sosial.

Dalam diskusi yang bertopik “Kebangkitan Kembali Peradaban Islam”. “Nilai-nilai Asasi Islam tentang kebudayaan”. Dr Rainir menanyakan konsep tentang “Peradaban “ dalam kaitannya dengan “Kebudayaan”.

Berbagai pendapat para ahli mengenai nisbah antara Kultur dan Sivilisasi, yang akan kita temukan merupakan seperti benang kusut. Kita dapat  mencoba menyimpulkannya sebagai berikut :

Pertama, Pendapat bahwa “civilisation” atau “civilization” lebih luas daripada “culture”.

Kedua, Kultur lebih luas dari Sivilisasi; sivilisasi merupakan bagian dari Kultur. Dan yang kedua ini pun terbagi atas dua pihak. Pendapat pertama: Sivilisasi adalah Kultur Batini. Pendapat kedua: Sivilisasi adalah Kultur Lahiri;

Ketiga, Sivilisasi adalah Kultur dalam dekaden, Kultur yang sudah membeku.

Keempat, tidak memperbincangkan mana yang luas mana yang sempit, tetapi membedakan yang satu dengan yang lainnya: Kultur adalah karya manusia nan batini, Sivilisasi adalah karya manusia yang lahiri:

Kelima, Pada umumnya diterima Kultur ekwivalen dengan Kebudayaan,  yang mengartikan Sivilisasi dengan kata Perdaban (terlepas dari apa yang dimaksukannya dengan peradaban tersebut). Sementara itu Bung Hatta memperlawan Sivilasi dengan peradaban.

Baik kultur yang disamakan dengan Kebudayaan, maupun Sivilisasi yang disamakan dengan kebudayaan, maupun Sivilisasi yang disamakn (oleh banyak orang) dengan Peradaban, kedua-keduanya sama karya insani, kedua-keduanya sama meliputi pelbagai aspek kehidupan dan penghidupan dan penghidupan manusia. Di dalam pembahasannya dalam risalah  ini saya lebih menitik-beratkan pada kata dan pengertian Kultur atau Kebudayaan, dengan tidak memperbedakannya secara tajam dengan Sivilisasi dan atau Peradaban.

Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, ialah:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peratudan dan sebagainya,
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari    manusia dalam masyarakat,
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan. Sifat abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran dari warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka itu dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideel sering berada dalam kerangka dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan. Sekadisk, tape, arsip, koleksi microfilm dan microfish, kartu computer, disk, silinder, dan tape komputer.

Kebudayaan idel ini dapat kita sebut adat tata kelakuan, atau secara singkat adat dalam arti khusus, atau adat-istiadat dalam bentuk jamak. Sebutan tata-kelakuan itu, maksudnya menunjukan bahwa kebudayaan ideel itu biasanya juga berfungsi sebagai tata-kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Dalam fungsi itu secara lebih khusus lagi adat terdiri dari beberapa lapisan, yaitu dari yang paling abstrak dan luas, sampai yang paling konkret dan terbatas. Lapisan yang paling abstrak misalnya sistem nilai-budaya. Lapisan kedua, yaitu sistem norma-norma adalah lebih konkrit, dan sistem hukum yang bersandar kepada norma-norma adalah lebih konkret lagi. Sedangkan peraturan-peraturan khusus mengenai berbagai aktifitas sehari-hari dalam kehidupan masyarakat manusia (seperti sopan-santun), merupakan lapisan adat-istiadat yang paling konkret namun terbatas ruang lingkupnya.

Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktifitas- aktifitas manusia-manusia yang merinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lainya, yang dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun-ke tahun selalu mengikuti ppola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkayan aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kitasehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi.

Wujud ketiga dari kebudayaan  disebut kebudayaan fisik, dan memerlukan keterangan banyak. Karena merupakan seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkrit, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada beberapa yang sangat besar seperti: suatu pabrik baja; ada benda-benda yang amat kompleks dan sophisticated seperti suatu komputer berkapasitas tinggi; atau benda-benda yang besar dan bergerak seperti suatu perahu tangki minyak; ada benda-benda yang besar dan indah seperti suatu candi yang indah; atau ada pula benda-benda kecil seperti kain batik; atau yang lebih kecil lagi, yaitu kancing baju.

Sudah tentu dalam analisa sistematis, kebudayaan fisik yang dimiliki atau dihasilkan oleh bangsa itu, harus lebih dulu digolong-golongkan menurut tingkatnya masing-masing. Sebagai pangkal penggolongan dapat kita pakai unsur-unsur kebudayaan yang terbesar, ialah unsur-unsur universal. Kemudian tiap unsur besar tadi kita pacah ke dalam sub unsur-unsur dan demikian seterusnya. Sebagai contoh: Aspek fisik dari suatu religi sebagai suatu unsur kebudayaan yang universal, adalah gedung atau bangunan tempat pemujaan. Unsur itu dapat kita pecah ke dalam beberapa sub-unsur, yaitu antara lain misalnya perabot upacara. Sub-unsur tersebut dapat dibagi lagi ke dalam beberapa sub-unsur yang lebih kecil, misalnya jubah pendeta pemuka agama.

Ketiga wujud dari kebudayaan terurai di atas, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tentu tidak terpisah satu dengan yang lainnya. Kebudayaan ideel dan adat-istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran maupun ide-ide, maupun perbuatan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik itu membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatanya, bahkan juga mempengaruhi cara berpikirnya.

Sungguhpun ketiga wujud dari kebudayaan tadi erat berkaitan, untuk keperluan analisa toh perlu diadakan pemisahan yang tajam. Hal ini yang saling diperlukan; tidak hanya dalam diskusi-diskusi atau dalam pekerjaan sehari-hari, ketida wujud atau paling sedikit wujud pertama dan kedua dari kebudayaan, sering dikacaukan tapi juga dalam analisa ilmiah oleh para sarjana yang menamakan dirinya ahli kebudayaan atau ahli masyarakat. Seringkali suatu pemisahan yang tajam antara ketiga hal terurai di atas tidak dibuat.

Dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, dengan tidak disengaja sebenarnya sudah ada semacam pembagian lapangan dalam studi terhadap ketiga wujud kebudayaan tadi. Sarjana-sarjana kesusasteraan dan ilmu filologi terutama mengarap kebudayaan dalam wujud ideelnya. Demikian juga ilmu-ilmu sosial yang berdasarkan pendekatan normatif, seperti ilmu hukum adat, dan sebenarnya ilmu hukum pada umumnya. Sarjana-sarjana ilmu sosiologi, antropologi dan psikologi serta ilmu-ilmu sosial yang lain yang tergolong ilmu-ilmu tentang kelakuan manusia (behavioral sciences), terutama menggarap kebudayaan dalam wujudnya yang kedua, sesungguhnya mereka juga menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan ideelnya. Demikian juga ilmu-ilmu sosial lain seperti ilmu sejarah dan ilmu politik. Para ahli ekonomi menggarap wujud kedua dan ketiga dari kebudayaan, walaupun ada kalanya meraka pula menaruh perhatian terhadap kebudayaan ideel dalam masyarakat mereka. Akhirnya sarjana-sarjana seperti ahli arkeologi (ahli sejarah kebudayaan kuno), terutama terutama menggarap kebudayaan dalam wujudnya yang ketiga. Namun walaupun pusat perhatian dari para ahli arkeologi itu misalnya suatu nekara perunggu yang merasal dari zaman prehistori, atau suatu kompleks candi yang indah dan megah, mereka toh selalu membuat referensi kebudayaan ideel yang merupakan latar belakang dari benda perunggu atau bangunan batu tadi.

2.2 Kesenian dan Ilmu Keindahan (estetika)

Umumnya, bagi orang berbahasa Indonesia, kebudayaan adalah “kesenian”, yang bila dirumuskan, bunyinya sebagai berikut:

Kebudayaan dalam arti kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis, dan indah, sehingga ia dapat dinikmati dengan pancaindranya (yaitu penglihat, penghidu, pengecap, perasa, dan pendengar).

Menurut para ahli filsafat, khususnya E. Kant, ilmu estetiksa adalah kemampuan manusia untuk mengamati keindahan lingkungannya secara teratur. Berkaitan dengan penilaian mengenai keindahan itu, aturan-aturannya tentu banyak. Sejak beribu-ribu tahun (mungkin bahkan lebih lama), yaitu sejak manusia purba masih hidup, keindahan dicapai dengan meniru mirip lingkingan itu, manusia kadang-kadang berhasil menirunya dengan hampir sempurna. Dikatakan hampir sempurna, karena masih ada bedanya. Seni rupa yang meniru mirip lingkungan itu menjadi aliran yang sekarang disebut “aliran naturalisme”, sementara yang berbeda dengan lingkungan, tetapi masih memiliki keindahan, disebut ”aliran seni rupa primitif”. Kita mengenal lukisan-lukisan dinding yang dihasilkan manusia-manusia purba di dinding-dinding gua tempat ia berteduh atau tinggal, yang seringkali memiliki keindahan yang khas.

Pada suatu ketika manusia kemudian berhenti untuk menirulingkungan, tetapi menggunakan garis-garis dan lingkungan-lingkungan geometrik, dekoratif, sesuai dengan penilaian keindahan dan kreativitas seniman yang bersangkutan. Sebenarnya penduduk Irian Jaya pun telah meninggalkan upaya untuk meniru lingkungan tatkala mereka menciptakan tiang-tiang mbis, yaitu patung-patung yang menggambarkan orang-orang yang disusun secara vertical. Patung-patung ini sebenarnya menggambarkan silsilah orang dengan para leluhur.

Kesenian bagi cabang ilmu pengetahuan tidak hanya diartikan sebagai tari-tarian, tetapi terutama seni pembuatan tekstil (termasuk batik, ikat, dan songket). Dalam hal ini, arti, kedudukan, dan simbolik dari motif motif yang ditampilkan dalam seni pembuatan tekstil ini menduduki tempat yang penting dalam antropologi. Namun, di samping itu, hampir semua cabang kesenian tradisional pun mendapat perhatian yang mendalam dari antropologi.

Berdasarkan indera penglihatan manusia, maka kesenian dapat dibagi sebagai berikut: (1) seni rupa, yang terdiri dari (a) seni patung dengan bahan batu dan kayu, (b) seni menggambar dengan media pinsil dan crayon, (c) seni menggambar dengan media cat minyak dan cat air; (2) seni pertunjukan yang terdiri dari (a) seni tari, (b) seni drama, dan (c) seni sandiwara. Dalam seni pertunjukan, indera pendengaran sebenarnya juga turut berperan, oleh karena di dalamnya diolah pula berbagai efek suara dan musik untuk menghidupkan suasana.

Berdasarkan indera pendengaran manusia, maka kesenian dibagi dalam: (1) seni musik (termasuk seni musik tradisional), dan (2) seni kesusastraan. Cabang kesenian yang tersebut terakhir ini juga termasuk dalam bagian ini karena dapat pula dinikmati dan dinilai keindahannya melalui pendengaran (yaitu melalui pembacaan prosa dan puisi).

2.3 Komunitas Petani sebagai Sebuah Sistem Hubungan Sosial

Dengan menganggap komunitas petani sebagai sebuah sistem hubungan sosial, sebagai struktur sosial, bagaimana akan kita lukiskan hubungannya dengan sunia luar dari komunitas tersebut? Bagaimana dengan perubahan-perubahan konsep dan prosedur terjadi bila kita mempelajari suatu desa petani, sambil membayangkannya sebgaai suatu sistem hubungan yang tetap berlangsung dan penting di kalangan penduduk? Boleh jadi sebuah petani, dalam hubungannya dengan orang dan intitusi di luarnya, begitu tidak lengkapnya sebagai sistem sehingga dia tidak dapat dilukiskan secara baik sebagai struktur sosial.

Kebanyakan perbedaan seperti agama dalam sistem hubungan sosial dalam komunitas petani terlupakan dengan adanya kesamaan profesi yang merupakan faktor utama dalam pembentukan suatu komunitas. Serta pada akhirnya menciptakan keadaan yang harmonis.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1  Sejarah Cigugur

 

Cigugur adalah nama sebuah tempat, yang terletak kira-kira 3 kilometer sebelah barat Kota Kuningan. Merupakan salah satu Kelurahan yang termasuk ke Kecamatan Cigugur. Berdasarkan cerita orang sekitar , sebelum ada nama “ Cigugur “, nama tempat tersebut adalah “Dukuh Padara“. Berasal dari satu tokoh yang memegang kekuasaan di sana pada waktu itu, Ki Gede Padara. Padara berasal dari kata “Padan” dan “tarak” atau bertapa.

Ki Gede Padara dalah seorang biksu yang membawa keistimewaan dalam hal menghayati dan mengamalkan ilmu kehalusan budi atau kewenangan. Terceritakan bahwa badan bagian dalam Ki Gede Padara itu dapat terlihat atau tembus pandang, sehingga organ tubuhnya dapat terlihat.

Ki Gede Padara lahir sebelum Kota Cirebon berdiri. Kira-kira 12-13 Masehi. Satu periode dengan Ki Gede Padara, di sebelah selatan adalah Talaga, tokohnya dalah Pangeran Pucuk Umum. Dan disebelah utara, Galuh, yang dipimpin oleh Pengeran Galuh Cakraningrat, dan Pangeran Aria Kamuning yang memimpin Kuningan atau terkenal dengan Kajene. Meskipun Ki Gede Padara, Aria Kamuning, Pangeran Pucuk Umum, dan Pangeran Galuh Cakraningrat ada ikatan saudara, tapi dalam hal urusan pemerintahan dan kepercayaan mereka pegang sendiri-sendiri. Aria Kamuning, Pangeran Pucuk Umum, dan Pangeran Galuh Cakraningrat memeluk agama hindu, Tapi Ki Gede Padara bersikap mandiri, Hindu bukan , Budha bukan, Islam juga bukan.

Ketika sedang gencar-gencarnya penyebaran agama Islam, di Cirebon berdiri satu Paguron yang didirikan oleh Syech Nurjati. Di sampingnya ada lagi yaitu Syech Maulana Syarif Hidayatullah, yang nantinya terkenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang selanjutnya mendirikan Kota Cirebon yang sebelumnya disebut Caruban. Kuwu yang tinggal disana dikenal sebgai Ki Gede Alang yang dikuburkan di dekat Mimbar Masjid Agung Cirebon.

Terceritakan Ki Gede Padara Umurnya sudah sangat tua, malahan ia sudah merasa bosan untuk hidup, ingin cepat-cepat meninggalkan dunia. Tapi jangankan meninggal, hidup seperti orang normal saja sulit, padahal Makam dan nisannya sudah tersedia. Sekalipun Ki Gede Padara mempunyai ilmu untuk menghilang ( ngahiang ). Kemauan Ki Gede Padara akhirnya sampai kepada Pangeran Aria Kamuning yang telah masuk islam. Seterusnya beliau ( Pangeran Aria Kamuning ) meminta bantuan kepada Pangeran Syarif Hidayatullah.

Ketika mendengar laporan itu, Pangeran Syarif Hidayatullah langsung berangkat menuju Dukuh Padara. Ketika, beliau  melihat keadaan tubuh Ki Gede Padara, beliau merasa iba. Sampai beberapa saat beliau merasa tertegun. Keadaan tubuh Ki Gede Padara menggambarkan betapa besar ilmu yang dimilikinya, begitu besarnya dalam mengamalkan kehalusan budinya.

Setelah Ki Gede Padara mengutarakan maksud dan tujuannya, selanjutnya oleh Pangeran Syarif Hidayatullah disanggupi, dengan syarat Ki Gede Padara sanggup mengucapkan kalimat Syahadat. Kemudian oleh Ki Gede Padara disanggupi, baru satu kalimat syahadat yang diucapkan oleh Ki Gede Padara, wujudnya mendadak sirna, lalu Pangeran Syarif Hidayatullah berniat untuk mengambil air Wudhu, tapi mencari air tidak pernah ditemukan, kemudian beliau memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Atas ijin Allah Yang Maha Besar, sekejap mata timbul suatu keajaiban, Langit yang tadinya cerah mendadak mendung, suara guntur menyambar-nyambar. Bersamaan dengan itu, dari dalam tanah keluar mata air jernih berkilau. Lama-kelamaan air tersebur menyembur dan membentuk sebuah balong ( kolam ). Sampai sekarang menjadi Balong Keramat yang dihuni oleh ikan Kancra Putih. Kejadian itu berupa pertanda bahwa gugurnya Ilmu Ki Gede Padara. Sejak saat itu Dukuh Padara dikenal sebagai Cigugur yang dikenal sampai sekarang.

 

3.2  Letak Geografis dan Data Penduduk

3.2.1        Profil Desa

Nama Desa/Kel.                       : Cigugur

Kecamatan                               : Cigugur

Kabupaten                               : Kuningan

Provinsi                                   : Jawa Barat

Alamat                                     : Jalan Raya Cigugur No.1 Kode Pos 45552

SK                                           : NO.821.29/KPTS.581-BKD/2003

Jarak ke Pusat Kecamatan       : 0,002 km

Jarak ke Pusat OTODA                        : 2,5 km

Luas Wilayah                           : 300 HA

Batas Barat                              : Desa Cisantana

Batas Timur                             : Kel. Kuningan

Batas Selatan                           : Kel. Sukamulya

Batas Utara                              : Desa Cipari

Jumlah RT                               : 38

Jumlah RW                              : 13

Jumlah penduduk                    : 7289 jiwa ( th 2006 )

Pra KS                                     : 25 KK

KS-1                                        : 310 KK

KS-2                                        : 133 KK

Mata Pencaharian Utama         : Buruh Tani

Klasifikasi Desa                       : Swasembada

3.2.2        Data Penduduk Tahun 2006

Pekerjaan Penduduk.

No

Jenis Pekerjaan

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

1

Buruh Tani

379

216

595

2

Petani

1371

461

1832

3

Buruh

457

211

668

4

Pedagang

142

68

210

5

PNS

279

121

400

6

Pegawai Swasta

201

124

325

7

Pensiunan

94

32

126

8

Pengusaha

8

8

9

TNI/POLRI

75

75

Jumlah

3006

1233

4239

D

3.3  Seren Taun

3.3.1        Sejarah Seren Taun

Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal, perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba seperti kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Sri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuna. Kini upacara seren taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terlebih di kala menghadapi panen. Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang.

Di Cigugur, upacara seren taun yang diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda, sebagaimana biasa, dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840. Sebagaimana layaknya sesembahan musim panen, ornamen gabah serta hasil bumi mendominasi rangkaian acara.

Ada satu hal yang unik dari tanggal diselenggarakannya Upacara Adat Seren Taun, yaitu 22. 22 terdiri dari 20 + 2. 20 disini menandakan sebagai simbol sifat wujud manusia yang terdiri dari darah, daging, paru-paru dan sebagainya. dan 2 menandakan laki-laki dan perempuan (2 insan manusia)

 

3.3.2        Makna Dan Hakekat

Pada hakekatnya kegiatan seren taun mempunyai sejarah yang panjang, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman dahulu kala, tapi tidak diketahui siapa yang memulai dan menciptakannya. Sejarah manusia mempunyai catatan yang panjang khusunsnya dalam cara manusia untuk berbudaya dan bertahan hidup. Secara etimologi budaya berasal dari kata budi dan daya, budaya terbagi menjadi dua yaitu budaya spiritual dan budaya teknologi. Budaya yang spiritual.

Pada awal manusia hidup diatas pohon untuk bertahan hidup dari binatang buas setelah itu manusia hidup berpindah pindah (nomaden). Dari zaman Megalitikum, Neolitikum, Paleolitikum pada dasarnya manusia ituh hidup di dunia itu sama , dimasing masing belahan dunia pasti mengalami zaman atau masa yang sama. Sampai pada akhirnya manusia menemukan benda benda yang dapat menunjang kehidupannya. Manusia pada zaman itu minum air dengan menggunakan kedua telapak tangan yang ditekukkan, dan pada akhirnya manusia menemukan benda untuk menampung air dengan bentuk yang sama dengan lekukan telapak tangan , contoh kecil itu saja dapat kita simpulkan bahwa dalam menjalankan kehidupan manusia , manusia selalu berbudaya, alat penemuan itu merupakan hasil budaya.

Proses terjadinya kegiatan seren taun sudah terjadi dari zaman dahulu. Seren taun yang sekarang, merupakan seren taun yang masih dipertahankan keasliannya. Acara ini dilaksanakan di Cagar Budaya Nasional. Seren taun dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur masyarakat Cigugur selaku masyarakat agraris kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Menerima segala bentuk kenikmatan dan keberkahan, dan berharap agar hasil panen tahun depan lebih banyak.

Sebelum acara dimulai biasanya dibuka dengan acara doa bersama yang dipinpin oleh tokoh agama yang ada di Cigugur ditambah kaum adat setempat. Ujud nyata prosesi upacara seren taun yaitu berupa upacara dan pertunjukan kesenian tradisional, diantaranya pesta dadung, ronggeng gunung, seni klasik tarawangsa, gending karesmen, tari badaya, upacara adapt ngareremokeun dari Kanekes Baduy, seni monggang klasik, goong renteng, tari buyung, buncis, dogdog lonjor, reog, dan kecapi suling.

Pesta dadung biasanya ditampilkan setiap tanggal 18 Rayagung, kegiatan ini merupakan kegiatan sacral masyarakat Sunda di Cigugur. Pesta dadung dilaksanakan di depan gedung gedung Paseban Tri Panca tunggal, upacara ini dimulai dengan menunjukan rasa gembira para anak gembala dan bapak-bapak tani yang menari sambil menggunakan dadung atau tambang yang terbuat dari injuk untuk mengikat kerbau atau sapi. Upacara ini diakhiri dengan melepas hama. Upacara pesta dadung mengandung makna untuk melestarikan dan menjaga keseimbangan alam agar hama tidak mengganggu kehidupan manusia. Disamping menjaga alam, didalam prosesi pesta dadung ini terjadi proses pelestarian alam dengan cara penanaman bibit tanaman. Kegiatan ini dilakukan bersamaan antara masyarakat dengan pihak pemerintah.

Yang selanjutnya adalah ronggeng gunung yang biasanya ditampilkan pada tanggal 19 Rayagung, ronggeng gunung merupakan kesenian yang masih dilestarikan di Kabupaten Ciamis. Ronggeng gunung menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Dewi Samboja. Gadis tersebut dijadikan istri oleh Raden Anggalarang, putra Prabu Haurkuning dari kerajaan Galuh. Selanjutnya pasangan tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung Pangandaran, yang pada waktu itu sering didatangi oleh sekelompok penyamun. Paa waktu itu kerajaan diserang dan menewaskan Radeb Anggalarang, selanjutnya Dewi Semboja diselamatkan penduduk. Menurut wangsit yang diterimanya, Beliau harus mengganti namanya menjadi Dewi Rengganis, dan Beliau menyamar menjadi seorang penari ronggeng, serta hidup berkelana dari satu tempat ke tempat yang lainya, dan pada proses ini dikenalkan pula proses penanaman padi pertama kali.

Selankutnya adalah seni tarawangsa, kegiatan ini dipagelarkan pada tanggal 20 Rayagung. Seni tarawangsa ini merupakan kesatuan alat kecapi yang memiliki 2 kawat saja yang biasanya dikolaborasikan dengan kecapi tulen yang memiliki 7 kawat dan biasanya disertai dengan tarian para mojang.

Menurut Bapak Gumirat, selaku ketua adapt, menceritakan bahwa seni tarawangsa berasal dari kerajaan Mataram kira-kira abad XV. Pada awalnya hanya musik kecapi saja, namun agar tidak membosankan maka ditambah dengan tari badaya.

Tari buyung yang merupakan pusat acara seren taun ini, menceritakan sekumpulan para mojang yang hendak mandi di pancuran dengan menggunakan alat buyung. Buyung merupakan tempat air semaca, kendi besar yang dipakai menampung air dan cara membawanya dengan cara ditaruh di atas kepala. Tari buyung ini bias anya membentuk formasi jala sutra, nyakra bumi, bale bandung, medang kamulan, dan nugu telu. Dalam acara tersebut  memberikan kita gambaran bahwa masyarakat pertanian Sunda, merupakan masyarakat religius.

Di dalam pucak acara, biasanya ditampilkan pula atraksi kesenian tradisional asli dari masyarakat adat yang ada di daerah Jawa Barat dan Banten. Contohnya saja angklung baduy, dagdog lonjor, dan buncis yang dipagelarkan langsung oleh masyarakat adat dari Kanekes Banten. Kesenian tradisional Banten biasanya ditampilkan sesudah tari buyung, kesenian-kesenian dari Banten ini digunakan untuk mengiringi rombongan pembawa hasil panen, berupa padi, buah-buahan, dan benih padi untuk satu tahun kedepan.

Sedangkan goong renteng termasuk gamelan dari Kuningan, biasanya dimainkan selama puncak prosesi upacara seren taun pada tanggal 22 Rayagung. Bersamaan dengan goong renteng dimainkan, empat kelompok barisan yang membawa hasil pertanian dating dari empat penjuru angina menuju gedung Paseban Tru Panca Tunggal, yang dibarenggi dengan pertunjukan kesenian tradisional seperti tari buyung, angklung, dogdog lonjor, buncis dan reog.

Masing-masing barisan didampingi dengan orang yang membawa padi dan buah-buahan, paying janur yang disusun tiga tingkat, para mojang yang membawa bibit padi, para jajaka yang membawa paying janur dan tempat benih dan dibelakang itu terdapat barisan ibu-ibu yang membawa tumpeng di atas kepala mereka.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

 

Sejarah sebuah daerah sangatlah mempengaruhi akan adanya pola kebiasaan dari daerah tersebut. Seluruh daerah di dunia ini pasti memiliki sejarah yang beraneka ragam, dengan adanya hal itu maka akan menghasilkan kebudayaan dari bentuk ide sampai benda nyata yang berbeda-beda di setiap daerahnya.

Budaya dapat diartikan sebagai sebagai gabungan kata “budi” dan “daya”, budi pekerti yang dimilki oleh manusia dan daya dan upaya manusia dalam membina hidup. Jadi budaya dapat diartikan sebagai suatu Usaha manusia untuk menciptakan sesuatu yang dberguna bagi kehidupannya dengan menggunakan akal pikirannya.

Kebudayaan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Tanpa disadari setiap waktu kita hidup dengan budaya, dengan hasil cipta karya, karsa, dan rasa manusia, dengan barang-barang hasil ciptaan manusia yang tujuannya guna mempermudah hidup manusia itu.

Kuningan merupakan Kabupaten kaya budaya dan di klaim sebagai sumber peradaban pertama di tanah Jawa Barat karena ditemukannya adanya situs budaya prasejarah dari jaman Megalitikum yang terletak di Cipari, walaupun kurang memberikan bukti yang kuat.

Kelurahan Cigugur merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunikan tersendiri di kabupaten Kuningan. Masyarakat Cigugur kebanyakan, bermata pencaharian sebagai petani, hal ini didukung dengan keadaan geografis yang mendukung pertanian, dan ternak sapi. Dan pada akhirnya menimbulkan suatu sistem pola kehidupan masyarakat petani di daerah ini, walaupun jika dipandang dalam sudut pandang agama dan kepercayaan, Cigugur didominasi agama Kristen dan sisanya Muslim seta sebagian kecil agama kepercayaan. Namun  semuanya itu tidak menjadikan sebuah pertentangan, sebaliknya dengan kesamaan pekerjaan dan sikap saling menghormati, pada Seren Taun semuanya turun ke jalan menjadi satu, menggambarkan masyarakat yang rukun dan ideal.

Diferensiasai sosial dan masyarakat multikultural sangat lekat dengan  budaya tradisionalnya menjadikan Kelurahan Cigugur sebagai sentra budaya dan menjadi ikon Kabupaten Kuningan. Terletak di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai, menjadikan Kelurahan Cigugur yang subur, sejuk, dan menjadi sumber mata air bersih melimpah dan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat lokal. Karena karunia Allah SWT yang melimpah itu, masyarakat Cigugur melakukan suatu tradisi yang disebut Seren taun. Acara Seren Taun yang diselenggarakan setiap tanggal 18 Raya Agung sampai 22 Raya Agung ini merupakan bentuk ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sebagai tontonan unik dan tersendiri bagi warga lokal maupun wisatawan. Serta dalam Upacara Seren Taun di Cigugur ini sangatlah relefan dengan bentuk kebudayaan yang diungkapkan Prof. Koentjaraningrat, dari ide yang abstrak tentang memahami makna sebenarnya Seren Taun, pola kebiasaan yang menjadikan Seren Taun rutinitas di bulan Rayagung dan selanjutnya menjadikan masyarakat Cigugur bersyukur kehadirat Tuhan atas limpahan hasil panen, serta benda nyata yang dipergunakan dalam Upacara Seren Taun tersebut, mulai dari jain batik khas Kuningan, buyung, calung dan lain-lain.

4.2 Saran

 

Pengelolaan publikasi tentang keberadaan Upacara Seren Taun di Kuningan sebaiknya ditangani langsung oleh organisasi pemuda di Cigugur bukan malah perseorangan, serta tampilan yang baik dan menarik akan memudahkan turis datang dan  menarik untuk diteliti. Karena di Kelurahan Cigugur bukan hanya terdapat Upacara Seren Taun naun lebih daripada itu, seperti Taman Sari tempat tamu dari kesultanan lain menginap dan tempat membatik serta greja terbesar dan pertama di Kuningan, dan kolam Cigugur yang erat hubungannya dengan Peminpin Cigugur dimasa silam yakni ki Padara yang di dalamnya terdapat ikan dewa dan refleksi kaki. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan satu paket pariwisata yang utuh dan menjadikan Cigugur sebagai tempat Pariwisata religius, budaya, dan pengobatan.

Daftar Pustaka

Hasan Muhammad (1988). Lansekap Alam dan Budaya. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Koentjaraningrat. (1985). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru.

Koentjaraningrat. (1985). Manusia dan Kebudayaan Indonesia.Jakarta : Jambatan.

Peursen van C.A (1976). Strategi Kebudayaan. Jakarta dan Yogyakarta. BPK Gunung Mulia dan Yayasan Kanisius.

Redfield Robert (1982). The Little Community, Peasant Society and Culture. Chicago. CV Rajawali.

Setiadi M Elly, Kolip Usman (2010). Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Prenada Media Group. Bandung.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

2 Balasan ke ANALISIS DESKRIPTIF UPACARA SEREN TAUN DI KELURAHAN CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s