PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF INDONESIA SEBAGAI NEGARA MULTIBUDAYA

 Oleh:

Rizki Pratama (1001810)

Mahasiswa Prodi. Pendidikan IPS, FPIPS, UPI

ABSTRAKS

Artikel ini bertolak pada satu pemikiran tentang keadaan Indonesia sebagai Negara yang memiliki keberanekaragaman budaya. Manusia sebagai subjek kebudayaan, selalu dan akan selalu merubah kebudayaan sesuai dengan kebutuhan dan demi membantu serta mempermudah kehidupannya.

Indonesia sebagai Negara kepulauan dan memiliki keanekaragaman dalam beberapa aspek, seperti agama, ras, suku bangsa, agama, dan hal lainnya, menjadikan Negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia ini sarat dengan pertikaian akibat perbedaan.

Dalam kurun waktu saat ini kita dihebohkan dengan beberapa kejadian berdarah yang terjadi di beberapa daerah. Apa yang salah? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan kita semua.

Penanggulangan pemerintah dengan menggerakan aparatnya untuk meredakan konflik hanya akan menyelesaikan secara tidak menyeluruh. Pendidikan karakter, kata itu terlontar tatkala banyaknya peresoalan yang berkelumit di dalam kehidupan berbangsa. Pendidikan karakter merupakan sebuah jawaban dari proses perbaikan di Indonesia. Pendidikan karakter yang menekankan aspek toleransi, cinta damai, bersahabat, merupakan konsep-konsep yang ada dalam pendidikan multikultural. Dengan melihat Indonesia sebagai gambaran Negara yang majemuk, pendidikan multibudaya atau multikultur dianggap penting dan pundamental.

PENDAHULUAN

Tidak bisa terelakan bahwa manusia sebagai komponen pembentuk sebuah bangsa memiliki banyak perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Begitupun bila kita berbicara dalam konteks  kehidupan bernegara.

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya atau juga multikultur. Pada masyarakat multikultur, mereka memiliki tipe atau pola tingkah-laku yang khas. Sesuatu yang dianggap sangat tidak normal oleh budaya tertentu tetapi dianggap normal atau biasa-biasa saja oleh budaya lain. Perbedaan semacam inilah yang sering menyebabkan kontradiksi atau konflik, ketidak-sepahaman dan disinteraksi dalam masyarakat multikultur.

Salah satu upaya untuk bisa menghargai adanya perbedaaan adalah dengan memberikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih mengerucut, pendidikan karakter dalam menyikapi keragaman yang ada pada saat ini di Indonesia, bisa dibantu dengan pendidikan multibudaya. Menurut Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd. pendidikan multibudaya pada hakikatnya memiliki dua makna; (1) ia merupakan realitas sosial dalam masyarakat yang heterogen, di mana dari segi ini hamper seluruh negara di dunia pada dasarnya adalah bersifat multibudaya yang secara etnis dan budaya bersifat plural; (2) pendidikan multibudaya telah diangkat sebagai suatu keyakinan, ideologi, sikap, maupun kebijakan yang menghargai pluralisme etnik dan budayanya sebagai sesuatu yang berharga, potensial, harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan.

TUJUAN

  1. Penanaman nilai dari pendidikan karakter.
  2. Pendidikan multibudaya sebagai bagian dari restorasi kehidupan berbangsa di Indonesia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  •  Pengertian Pendidikan Karakter

Sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Sudrajat:2010), yakni:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sebagaimana pengertian pendidikan diatas ada poin penting yang dapat kita tarik. (1) bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya; serta (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan menurut bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro          (http://www.lihatberita.com/2011/05/)  ‘Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, dan jasmani anak didik’. Disinggung pula dalam pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro, adanya aspek budi pekerti yang meliputi kekuatan batin, dan karakter dalam pendidikan.

Karakter menurut kamus Poerwadarminta (http://embundinda.multiply.com) diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, ataupun budi pekerti. Jika kita amati lebih lanjut, karakter ini mengikut sertakan unsur kejiwaan, dan hal-hal yang baik yang ada dalam diri kita atau potensi.

Berkenaan dengan pengertian karakter menurut kamus Poerwadarminta, lebih lanjut dikatakan “karakter atau kepribadian merupakan akumulasi antara potensi dan proses penggunaan potensi” (Ma’ruf : 2010).

Dari dua definisi konsep pendidikan dan karakter, kita dapat hubungkan pengertian pendidikan karakter menurut T. Ramli (Sudrajat:2010), ‘pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak’. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik.

Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.

Tidak kurang dari 18 nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa diantaranya adalah: (1) Religius; (2)  jujur; (3) Toleransi; (4)  disiplin; (5) kerja keras; (6)  kreatif; (7)  mandiri;  (8)  demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10)  semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13)  bersahabat/komuniktif; (14)  cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17)  peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.

  •   Hubungan Pendidikan Karakter dengan keadaan Indonesia

Indonesia sebagai sebuah Negara dengan keberagaman yang tak bisa kita elakkan lagi menurut Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo BambangYudhoyono (http://beritakawanua.com/berita/nasional/html) “Indonesia, dengan lebih dari 300 kelompok etnisnya, adalah negara dengan keberagaman suku bangsa terbesar di dunia. Sejak kemerdekaan, generasi penerus bangsa hidup dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman,”

Kenyataan Indonesia sebagai Negara yang memiliki keragaman, terbukti sudah  tatkala data menyebutkan tidak kurang dari 746 bahasa yang ada di Indonesia. Begitupun dengan etnis yang ada di Negara kepulauan ini, 300 kelompok etnis ada di dalamnya.

Indonesia sebagai Negara rawan konflik dilihat dari keberagaman diatas. “SARA” suku, agama, ras dan antar golongan merupakan perbincangan hangat sampai saat ini sebagai faktor pemicu pertikayan.

Dibawah ini data suku yang ada di Indonesia diambil dari Wikipedia.

Daftar suku di Indonesia

Jika dilihat dari unsur agama menurut wikipedia, bangsa Indonesia menganut: (1) Islam, (2) Krinten Protestan, (3) Kristen Katolik, (4) Budha, (5) Hindu, (6) Khonghucu, serta beberapa kepercayaan seperti: (1) Yahudi, (2) Baha’I, (3) Kristen Ortodoks.

Menurut Robbins (Wikipedia) konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif. Jadi adanya prasangka atau pandangan yang melihat keragaman dengan sempit, dan memandang perbedaan sebagai hal yang tabu dapat menimbulkan konflik. Pertannyaan yang akan muncul sekarang adalah: Apa yang harus diperbaiki dari keadaan yang ada pada saat ini di Indonesia?

Penindakan secara tegas oleh pihak pemerintah dengan menggunakan alat Negara berupa keamanan seperti polisi, pamong praja dan lainnya hanya akan meredam konflik dan kecurigaan secara sesaat saja. Pendidikan karakter dapat membuat bangsa ini memiliki karakter yang baik seperti, sikap toleran, cinta damai, cinta tanah air, dan lainnya yang berhubungan, serta dibantu dengan pendidikan multibudaya yang memiliki poin penting tentang, penghargaan, dan menghormati kebudayaan orang lain. Dalam pendidikan multikultural perbedaan dipandang sebagai anugrah Illahi, bukan sebagai modal utama dalam pertikayan.

  •  Pendidikan Karakter dan Pendidikan Multibudaya sebagai Alat Penanaman Nilai 

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya di bagian sebelumnya, bahwa tidak kurang dari 18 nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa diantaranya adalah: (1) Religius; (2)  jujur; (3) Toleransi; (4)  disiplin; (5) kerja keras; (6)  kreatif; (7)  mandiri;  (8)  demokratis; (9) rasa ingin tahu; (10)  semangat kebangsaan; (11) cinta tanah air; (12) menghargai prestasi; (13)  bersahabat/komuniktif; (14)  cinta damai; (15) gemar membaca; (16) peduli lingkungan; (17)  peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.

Poin penting di atas yang berhubungan dengan artikel ini, tentang pendidikan karakter dalam perspektif Indonesia sebagai Negara multibudaya adalah tentang religius, toleransi, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat, cinta damai, peduli sosial.

Kymlicka  maupun Harjanto dalam salah satu artikel Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd, menyatakan, yang menghubungkan multibudaya dengan integrasi bangsa dalam tulisannya berjudul Antara Kebangsaan dan Kewarganegaraan, menyatakan bahwa bukannya pendekatan ethnocultural nationalism/ethnic nationalism maupun civic-nationalism, melainkan sebaiknya multicultural nationalism.

Menurut Adam (Supardan), sejarawan dan peneliti LIPI, yang melaporkan telaahannya dalam tulisan yang berjudul “Ancaman Disintegrasi Bangsa di Depan Mata”, menjelaskan bahwa:

Di berbagai daerah untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, terdapat gelombang pengungsi yang bukan akibat bencana alam. Di Pontianak dan sekitarnya terdapat ribuan keluarga Madura yang tinggal di “kamp-kamp pengusian” tanpa kejelasan dan nasib dan masa depannya. Di NTT menjadi tempat penampungan lebih dari seratus ribu warga eks Timor Timur… Di Medan terdapat ribuan pengungsi Aceh. Menurut sebuah catatan, kini telah terdapat lebih dari sejuta pengungsi di seluruh Indonesia. Mereka adalah warga negara yang terlempar dari rumahnya akibat “perang saudara” dan menjadi 33  suatu komunitas orang asing di negeri sendiri… belum lagi kasus-kasus Aceh, Poso, dan Irian Jaya, dan Ambon.

 

Pendidikan multibudaya yang sarat dengan penghargaan, penghormatan, dan kebersamaan dalam suatu komunitas yang majemuk.  Menurut Blum dalam salah satu artikel Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd,  menyatakan bahwa:

Multibudaya meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri.

Kata kunci dalam pendidikan multibudaya tersebut, yakni pengakuan adanya perbedaan dan penghargaan, dua kata yang selama ini sering dikontraskan. Dengan pendidikan multibudaya peserta didik diarahkan pada pemahaman dan pengimplementasian keterampilan sosial seperti sikap toleransi, cinta damai, cinta tanah air, bersahabat dan sikap sikap lain dalam menunjang kehidupan yang harmonis.

  •  Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dan Multikultular dalam Praktek Pengajaran di Lingkungan Akademik

Internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter dan multikultural  dalam proses pengajaran dilakukan secara tersirat (Hidden Curriculum). Sebagai contoh siswa mempelajari sejarah, dalam proses pembelajaran sejarah diharapkan siswa  dapat menemukan  dan memahami nilai-nilai kerjasama, toleransi dari berbagai latar belakang yang berbeda para pendahulu kita untuk mewadahi perbedaan-perbedaan tersebut dalam naungan Republik Indonesia.

Melalui pendekatan konstruktivisme, siswa  diberi keleluasaan untuk mencari data dan guru sebagai fasilitator dan senantiasa memberikan penekanan sehingga apa yang ditemukan oleh siswa menjadi pengetahuan baru, maupun apa yang disampaikan oleh guru didalam kelas merupakan sesuatu yang nyata di lapangan. Selain itu, melalui  pendekatan ini siswa memiliki keterampilan sosial sebagai suatu pendidikan intelektual yang mencakup keterampilan bernalar atau berpikir juga bertindak (Problem Solving).

Refleksi (Rusman : 2011) adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi / baru saja dipelajari. Refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada tahapan ini siswa dibiarkan memahami, meresapi, dan siswa dibebaskan untuk menimbang, menilai, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be). Di saat siswa melihat lebih jauh di luar jendela kelas, diharapkan menjadikan dirinya berfikir betapa banyak masalah yang dihadapi bangsa ini, dari situ guru dengan penekanannya mengarahkan dan membentuk pola pikir sehingga terarah menuju pola pikir yang diharapkan, yakni siswa yang senantiasa memiliki sikap yang lebih toleran, cinta damai, peduli sosial, dan hal lain yang menunjang terciptanya bangsa Indonesia yang harmonis.
KESIMPULAN

Sebagai bangsa yang memiliki keberagaman yang luar biasa. Guru Indonesia bisa menanamkan nilai yang membentuk siswa menjadi toleran dan cinta perdamaian. Konflik yang berbau sara memang dapat ditanggulangi dengan turunnya aparat keamanan ke jalan, namun hal tersebut tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh.

Hal yang harus diperkenalkan kepada siswa adalah pendidikan multikultural, dimana dalam pendidikan multikultural siswa diberikan pemahaman dan pengetahuan tentang perbedaan. Pengetahuan yang menyeluruh tentang konsep perbedaan akan membuat siswa mengaggap perbedaan sebagai bagaian dari anugerah Tuhan.

Dalam proses penyampaian nilai, guru bisa menyelipkan tentang nilai-nilai toleransi dan multibudaya di dalam mata pelajaran yang sedang di sampaikan namun tidak melupakan dan mengabaikan materi pokok.
Daftar Pustaka:

 

BeritaKawanua. (2011). Indonesia Sebagai Negara Multikultur. [Online]. Tersedia: http://beritakawanua.com/berita/nasional/pidato-di-unesco-sby-sebut-indonesia-sebagai-negara-multikultural-.html. [4 Maret 2012].

Embun, Dinda. (2007). Membangun Karakter. [Online]. Tersedia: http://embundinda.multiply.com/journal/item/36/Membangun_Karakter. [3 Maret 2012].

Lihatberita. (2011). Taun Ajaran Baru akan Terapkan Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: http://www.lihatberita.com/2011/05/tahun-ajaran-baru-akan-terapkan.html. [3 Maret 2012].

Ma’ruf, Hamka Mujahid. (2010). Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: http://himapips.blogspot.com/2011/02/pendidikan-karakter.html. [3 Maret 2012].

Sudrajat, Akhmad. (2010). Definisi Pendidikan Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas/. [3 Maret 2012].

Supardan, Dadang. ( – ). Pendidikan Multibudaya. Artikel.

Supardan, Dadang (2005) Pembelajaran Sejarah Berbasis Pendekatan Multikultural dan Perspektif Sejarah Lokal, Nasional, dan Global dalam Integrasi Bangsa, Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Tidak dipublikasikan.

Tim Pengembang MKDP UPI. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Rajawali Pers.

Wikipedia. (2012). Daftar Suku Bangsa di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_suku_bangsa_di_Indonesia. [4 Maret 2012]

Wikipedia. (2012). Agama di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_di_Indonesia. [4 Maret 2012].

Wikipedia. (2011). Konflik. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. [5 Maret 2012].

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s