KADERISASI

Oleh: Rizki Pratama

Berbicara tentang kaderisasi, erat kaitanya dengan perpeloncoan. Sering kali kita terkecoh dengan pandangan khalayak yang memandang negatif arti kata perpeloncoan, sehingga pada akhirnya kita terlarut dengan arti perpeloncoan di masyarakat. Jika kita meninjau dari kamus besar Bahasa Indonesia kata “pelonco” artinya ” pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dng mengendapkan (mengikis) tata pikiran yg dimiliki sebelumnya” , jika dilihat dari pengertian tersebut saya pikir tidak ada arti yang salah pada perpeloncoan. Jadi pada dasarnya kesalahan yang ada dalam pengkaderan bukan pada perpeloncoannya tapi pada cara subjek kaderisasi yang kurang tepat, seperti penggunaan kekerasan pada proses kaderisasi.

Training Leadership HIMA PIPS UPI

Manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai subjek kebudayaan, akan selalu serta merta mengubah sistem dan cara dalam kehidupannya sehingga dapat lebih memudahkan dan memperbaiki situasi. Sama hal nya dengan kaderisasi, proses kaderisasi akan mengikuti perkembangan zaman, kaderisasi yang dilakukan pada zaman dahulu yang membutuhkan mahasiswa yang berani melawan tirani dibutuhkan kaderisasi yang menggunakan pelatihan fisik dan mental. Namun perkembangan sekarang yang menuntut mahasiswa yang kritis dan berwawasan luas tipe kaderisasi yang dibutuhkan pun disesuaikan dengan tujuan tersebut.

Sesungguhnya kaderisasi bertujuan sebagai akselerasi pengenalan terhadap kehidupan kampus, dan sebagai penyesuaian karakter yang berkembang di kampus. Esensi kaderisasi yang baik tersebut sebaiknya tidak dipergunakan untuk hal-hal yang kurang baik seperti balas dendam.

Kebiasaan menggunakan cara yang kurang baik, menurut saya dapat dikarenakan 2 hal : (1) Karena kebiasaan himpunan tersebut. Kebiasaan merupakan hal yang sulit kita ubah, namun bisa diusahakan, maka jangan sekali-kali menyerah mengubah proses kaderisasi yang kurang baik menuju kaderisasi yang ideal. (2) Ajang balas dendam. Pada bagian ini membuktikan adanya kesalahan kaderisasi yang membuat seorang menjadi dendam. Dan hal ini sangat membahayakan, jika kaderisasi menjadi sebuah kebiasaan pembalasan dendam, maka fungsi kaderisasi yang sesungguhnya akan terlupakan.

Kebiasaan pemberian hukuman yang berlebihan serta tidak mendidik, serta pencemoohan bagi pelanggar dalam kaderisasi dan hal lain seperti pengucilan seringkali menjadi kebiasaan. Yang parahnya kebiasaan tersebut tidak dirasakan oleh sang pelaku ataupun objek tersakiti. Hal ini akan membentuk watak yang memandang Kaderisasi erat hubungannya dengan hal hal tersebut dan menganggap biasa terhadap fenomena tersebut.

HIMA PIPS yang notabene baru dalam proses pembentukannya membuktikan bahwa Himpunan tersebut dapat melaksanakan kaderisasi dengan baik tanpa kekerasan. Latar belakang dibalik itu adalah tidak diawalinya kaderisasi pertama dengan kekerasan dan etikat baik dari pengurus untuk membuat proses kaderisasi yang baik dan memenuhi tujuan sesungguhnya.

*Departemen Pengembangan Organisasi  HIMA PIPS, FPIPS, UPI tahun 2011

dan sebagai salah satu syarat mengikuti Pendidikan, Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Republik Mahasiswa UPI

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Mahasiswa. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s